Come and See Inside

Royal Wedding ala Yogya

Kemeriahan gelaran Royal Wedding GKR Bendoro dan KPH Yudhanegara, menjadi peristiwa yang dinanti-nanti oleh warga Yogyakarta. Diperkirakan 4.000 tamu undangan hadir belum lagi ribuan masyarakat dan wisatawan yang turut menyaksikan pernikahan agung tersebut.

Merujuk kenyataan tersebut, tak dapat disangkal betapa pernikahan ini telah menjadi ladang tersendiri untuk para pebisnis.

Menurut Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Yogyakarta, Nur Achmad Affandi, perputaran uang selama tiga hari pelaksanaan Royal Wedding mencapai Rp 100 miliar. Benar-benar angka yang fantastis.

Sektor-sektor hospitallity yang menjadi menopang pelaksanaan Royal Wedding seperti bisnis perhotelan, restoran & cafe, jasa transportasi, katering, serta agen perjalanan wisata sangat diuntungkan dalam agenda budaya ini.

“Yang paling kentara adalah hotel yang menampung ribuan tamu yang secara langsung baik itu undangan maupun wisatawan yang sengaja ingin melihat kemeriahan pernikahan agung karena peristiwa budaya itu telah diketahui umum jauh-jauh hari,” kata Nur Achmad, Kamis (20/10/2011).

Dari sumber yang diperoleh Kadin, jumlah kedatangan wisatawan, juga dapat diketahui dari penerbangan ke Yogyakarta, mengalami kenaikan signifikan, bahkan sudah terjadi sejak lima hari sebelum hari pelaksanaan Royal Wedding.

“Kami perkirakan ini terkait langsung, bahkan diketahui banyak MICE yang sengaja mengambil tanggal 17-19 Oktober ke Yogyakarta, agar sekaligus dapat melihat pernikahan putri Raja,” ungkap Nur Achmad.

Sayang, lanjut Nur Achmad, peristiwa budaya yang mempunyai potensi strategis menggeliatkan ekonomi tersebut, masih dominan hanya dinikmati oleh para pemodal besar. Sedangkan bagi pelaku bisnis kecil dan menengah hanya menerima limpasan dari pengusaha besar.

“Sebagai contoh tamu VIP tentu hanya memilih hotel bintang lima sampai tiga. Yang seperti ini memang tidak bisa di tolak, tetapi sebenarnya ada upaya dari pemerintah untuk turut memeratakan tamu agar semua hotel mempunyai daya tawar yang sama,” ujarnya.

Padahal, pemerintah Provinsi DIY dan keraton melelui Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), sudah mempunyai komitmen bahwa agenda semacam pernikahan putri Sultan menjadi sebuah strategic event untuk promosi wisata dan investasi daerah sehingga semua elemen masyarakat dapat menikmati secara merata.

“Agenda budaya seperti ini sangat langka, apalagi putri Sultan yang belum menikah tinggal seorang. Kami semua berharap kedepan agenda besar seperti ini dapat dikemas dan diorganisir lebih baik sehingga potensi ekonomi bagi warga Yogyakarta bisa dimanfaatkan secara optimal,” harapnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s