Come and See Inside

RANI

RANI, gadis kecil yang duduk di kelas 3 SMP itu sedang termenung sendirian di bawah pohon rindang yang berada tepat di halaman sekolahnya. Dia sangat kebingungan. Tapi kebingungan itu tidak ditampakkannya di raut wajahnya yang manis. Rani anak yang pintar di sekolahnya, dia selalu juara kelas dan dia murid kesayangan guru-gurunya.

Dua hari yang lalu Rani ditunjuk guru Bahasa Indonesia untuk mengikuti perlombaan tingkat SLTP se Riau dalam rangka Hardiknas, dia terpilih sebagai pembaca puisi. Gurunya tiba-tiba menunjuknya tanpa mengetesnya terlebih tahulu.
Memang kemampuan Rani tidak diragukan lagi dalam membaca puisi tapi itu hanya sebatas di depan teman-temannya. Dia belum pernah tampi di depan orang ramai untuk mengekspresikan dirinya.

Yang menjadi permasalahan adalah hari ketika Rani berlomba adalah hari ujian akhir untuk kelas 3. Rani dipilih karena hanya Rani yang mampu membac puisi dengan baik di sekolahnya, maklum sekolah Rani bukanlah sekolah favorit, ruang kelasnya hanya tiga kelas.

Meski gurunya sudah memberi dispensasi untuk mengikuti ujian susulan, tapi Rani tidak tenang dengan hal itu . Di samping dia harus belajar untuk mempersiapkan ujiannya dia juga harus latihan untuk perlombaan puisi. Tapi Rani optimis, dia tidak mau nilaiya turun karena perlombaan ini dan dia juga tidak mau mengecewakan pihak sekolah yang telah memberi kepercayaan kepadanya.

Waktu perlombaan dua hari lagi, Rani sudah berlatih sendiri di rumah tanpa ada yang membimbingnya. Dia berekspresi di depan kaca setiap hari. Judul puisi yang dipilihnya adalah’’Dandandid’’. Sebenarnya Rani sendiri tidak mengerti dengan puisinya itu karena puisi itu bukanlah karyanya melainkan pemberian dari panitia. Tapi rani tetap berusaha sebaik mungkin.
Hari perlombaan sudah tiba. Rani ke sekolah pagi-pagi sekali dengan harapan gurunya mengetesnya terlebih dahulu agar apa bila ada kesalahan, dia mendapat koreksi dari gurunya. Sampai di sekolah, Rani langsung mencari guru Bahasa Indonesia.
‘’Bu, hari ini saya harus berlomba di gedung kesenian, apa ibu mau melihat saya berpuisi terlebih dahulu sebelum berlomba?’’Rani berbicara pada gurunya dengan gaya meminta.
Tapi guru itu malah menjawab,’’Oh… Rani, Ibu sampai lupa lho kalau hari ini perlombaan kamu. Emmm… gini aja, kamu langsung aja ke gedung kesedian itu ya, hari ini ibu sibuk sekali, jadi enggak bisa melihat kamu puisi dulu, kamukan tahu hari ini kelas tiga ujian.’’
‘’Jadi yang nemenin saya kesana siapa bu?’’tanya Rani dengan nada sedih.

Kamu sendiri bisa kan? Semua guru hari ini sibuk Rani, kamu harus maklum, nanti ibu kasih ongkos untuk pergi kesana ya. Atau nanti ibu bilang sama bapak olah raga biar antar kamu. Tapi dia tidak bisa menemanimu disana, nanti dia langsung pulang karena masih banyak yang harus dipersiapkan disini. Kamu harus semangat ya, jangan sedih gitu dong!Mendengar itu Rani tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia terdiam seribu bahasa.

Rani dan guru olah raganya baru saja turun dari angkot. Sesampainya di gedung kesenian Pekanbaru tempat perlombaan, Rani sangat terkejut dengan suasana di sana. Ramai sekali, ada yang memakai pakaian daerah, mereka cantik sekali. Semuanya ditemani oleh guru-guru mereka.

Rani dan gurunya langsung menuju tempat di mana dia harus berlomba, mereka mengambil nomor undian. Ketika guru Rani menanyakan nomor undian untuk Rani, ternyata sekolah mereka belum terdaftar karena belum mendaftar ulang. Tapi mereka memberikan pilihan untuk undian terakhir. Karena semangat Rani untuk tampil, dia mau menerima pilihan itu. Akhirnya Rani mendapat nomor undian 61, dan Rani tetap semangat.

Rani duduk sendirian tanpa teman karena gurunya tadi sudah kembali ke sekolah. Sesekali timbul rasa pesimis dalam hatinya ketika melihat peserta lomba yang sudah tampil mengeluarkan ekspresi di atas pentas dengan ekspresi yang luar biasa.

‘’Pasti mereka sudah dilatih oleh gurunya dengan sangat matang, sedangkan aku? Dilatih aja enggak, apalagi ditemani,’’ gumam Rani dalam hati. Rani mulai sedih, tapi dia langsung menepiskan kesedihannya itu.

Undian 30 sudah berlalu, jam sudah menunjukkan angka tiga sore. Pembawa acara mengumumkan bahwa untuk peserta 31 sampai 61 akan dilanjutkan besok. Rani pulang ke rumah dengan beribu perasaan. Capek, sedih, pesimis dan berbagai macam perasaan lagi yang dirasakannya. Tapi keinginan untuk tetap tampil masih bergejolak di hatinya. Keinginan itu yang membuatnya tetap semangat dan dia tetap terus berlatih agar bisa lebih bagus dari peserta lainnya.

Keesokan harinya, Rani ke sekolah untuk memohon doa dari para guru. Sekali lagi gurunya msih sibuk dengan urusan sekolah. Maklum guru di sekolah Rani berjumlah sedikit. Tapi kali ini dia meinta pad agurunya agar ditemani oleh teman akrabnya Yana, karena dia butuh teman untuk berbagi disana nanti.

Rani dan Yana sudah menyaksikan peserta undian 59, satu nomor lagi adalah giliran Rani. Sebelum dia tampil, dia selalu membaca doa dalam hatinya. Kini giliran Rani, jantungnya berdetak kencang, baru kali ini dia tampil di depan orang ramai. Tapi Rani tetap bisa menguasai dirinya. Yana selalu memberinya semangat agar nyali teman baiknya itu tidak ciut.
Rani memulai puisinya dengan salam. Dengan ekspresi yang tidak disangka-sangka, dia membaca puisi dengan begitu percaya diri. Suaranya begitu lantang dan begitu menggema. Semua mata dna perhatian tertuju padanya. Dia mengakhiri puisinya dengan salam. Sangking terpananya orang-orang tak ada terdengar tepuk tangan. Hanya Yana yang menyambutnya dengan tepuk tangan ketika Rani kembali kekursinya.

Rani dan Yana duduk paling belakang karena mereka tidak percaya diri untuk duduk di depan. Karena terlihat dari gaya mereka bukanlah murid-murid kaya seperti peserta lainnya. Rani kecewa karena tidak seorangpun dari peserta lain yang bertemuk tangan untuknya.Dia langsung pesimis dan mengajak Yana pulang.

‘’Ran tanggung, kita lihat dulu siapa yang juara, kan cuma bentar lagi,’’bujuk Yana. Rani menurut sahabatnya itu, tapi dia sudah hilang semangat.
Juri membacakan nilai para juara, dimulai dari juara harapan tiga sampai juara dua. Mereka berdua tidak mendengar nomor undian Rani disebut juri. Jadi mereka sudah sangat yakin sekali kalau Rani tidak mendapat juara. Keduanya sudah beranjak dari kursi untuk pulang ke rumah. Tapi juri masih berteriak menyebutkan nilai dan sang juara satu. Keduanya sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa Rani yang menjadi juara. Spontan keduanya menjerit kaget dan langsung berpelukan. Semua mata tertuju pada Rani dan Yana, air mata bahagia keluar dari mata kedua gadir kecil itu.

Pada malam Hardiknas, Rani tampil membawakan puisi di depan Bapak Walikota dan para undangan. Rani sangat bahagia sekali dan dia bersyukur, wakalu dia tidak mendapat perhatian dari gurunya tapi dia punya semangat yang bisa membawanya menjadi yang terbaik.

http://www.gunadarma.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s